(Foto: Dokumentasi Pribadi)




MATAHARI, GERHANA DAN SEKUNTUM BUNGA

 

Di suatu hari

Mereka berjumpa tanpa bicara

Pada taman dan angkasa

Tak kuasa menyapa, saling kagumi

 

Bercakap tanpa suara

Dari sinar dan kelopak-kelopak dedaunan

 

Di kala senja

Bunga kuncup termangun lesu

Matahari berpamit sendu

Namun berjanji bertemu esok hari

 

Siang kian menari riang

Meski langit berganti petang

 

Setia merajut kasih

Tanpa mengharap pujian atau terima kasih

 

Sekuntum mekar sudah

Rekah sari bunga itu

Ingin dipersembahkan pada penakluk hati

Tapi tak kunjung datang

 

Gerhana

Matahari terpasung pekat di situ

Tertatih menahan pedih

Yang berkepanjangan pahati luka

 

Hingga di tepi senja

Pada suatu hari

 

Bunga dikerumuni kumbang

Rangkanya telah gersang

 

Matahari mendekap redup di sana

Darah menetes bertulis namanya.

 

MENCINTAIMU


Hirup pikuk rasa tak lapuk

elegi hasrat dalam hati

memetik dawai sunyi


Guratkan harmoni

tapi tak mampu pahami

 

Semerbak harum kenanga

sekokoh tegak cemara

cendrawasih bertengger di atas ranting senja

lantunkan kidung sebilah jiwa

 

Apakah itu cinta

beserta busana hadirnya?

 

Aku menyentuhnya, berdansa bersama

akan tetapi

mengapa disaat raga terlunta

aku mengasihi, setulus sang surya

redup cahaya

sosoknya hilang di kelokan lara

 

Darah melambat perlahan keluar

dari pusat dera nelangsa

dari jantung, hati, hingga pori-pori

mengoyak telak di dada

 

Muara cinta sejati

yang tak mampu menepi

 

Butir-butir dari pelupuk mataku beku

membingkai sungai nan bisu

iringi teduh pangkuanmu yang telah berlalu

 

“Aku akan membuatmu bahagia,

aku seseorang yang mencintaimu.”

itulah kata-kata

yang seakan hilang tenaga menanti nestapa

menjadi mitos yang hangus tergerus pupus

 

Mulutku terkunci menanti bulan pergi

angan terdiam angin membawa dingin

malam terbenam di beranda

bening arak banjiri kerongkongan

ku teguk satu demi satu bintang cakrawala

 

Dalam diam saat lelap

ingin ku sematkan cempaka di telingamu

membelai jelita

dengan untaian syair-syair harapan

Tetaplah senantiasa ada, riang tersenyum mengecup kenang

andai keadaan dan perbedaan

tidak memisahkan.

 

 

 

 

 

PERMATA PANTAI SINDHU

 

 

Pagi lantunkan puisi

embun pagi bersajak cinta

meski hatiku tak menentu

burung-burung tetap bernyanyi merdu

nafasku seakan penuh asa

 

Siang telah tiba

mengantarkan kepada senja

kini hariku bertemu dengannya

tepat 6:45 senja mulai menghilang

 

Semilir angin membelai pohon kelapa

terdengar suara ombak menyapa

syahdukan ragaku

 

Di Pantai Sindhu

tempat kami bertemu

berbagi rasa berjalan bersama

indahnya suasana hapuskan rindu

 

Duduk di tepi pantai

malam bisikan damai

hingga terasa hanya ada kami berdua dan mimpi

mimpi kita yang menyibak riak ombak

menuju pulau impian bersama

 

seakan bulan dan cahayanya restui

pertemuan kami berpijak

sekali untuk selamanya

di Pantai Sindhu bersama permata hatiku.

 

 

 

 

 PUTRI BULAN

Buat: W.A.

 

Berkelebat bayangmu di langit biru

Langkah kakiku sendu

Pagi hari telah lelah temaniku duduk di taman

Kulihat sekuntum bunga menari

Memikat hati setiap kumbang muda yang dahaga

 

Bunga itu terbang

Terbawa deru angin menyapaku

Buyarkan lamunku

Melahirkan tawa dan cerita

Gurat riwayat di bawah sebatang cemara tua

 

Apa kau ingat, jiwa kita pernah bercengkrama di sana

 

Mungkin barang beberapa tahun sudah

Cukup kujadikan jawaban mengapa aku mengenangmu

 

Ia kusebut putri bulan

Purnama seakan sinari parasnya

Namun waktu merambat maju

Sampaikan warna dan harum bunga itu perlahan layu

 

Hentikan penaku

Yang sempat menuliskan kagum tentangnya di belakang buku.

 

Namun aku tetap berlari

di sepanjang lorong menggotong mimpi

Hingga di persimpangan teduh

Aku merapuh dan kau bersinar penuh

Meski sedari jauh

Diriku menemukan yang dicari

Ranumnya dirimu yang tetap menari syahdu.



SARASWATI

 

Jelita, widya itu cahaya

yang bermekar di lembar aksara

bersembunyi pada lipatan anggun kainmu

tempat aku senantiasa berteduh

terbaring kala rapuh

kuletakkan baktiku dalam pangkuanmu yang syahdu

 

Saraswati, kekasihku

dekaplah aku dengan segenap cinta di hatimu

cumbulah aku dengan seluruhmu

agar aku senantiasa paham,

arti pelita yang menghias rekah indah matamu

Biarkanlah aku di sini, sampai aku terlelap

sampai aku cukup kuat untuk meremas senyap

dan akhirnya bangun pada kesadaran yang sejati

akan harumnya pikat nirwana

serta merdu suara wina di gemulai tanganmu

 

Saraswati, pujaan hatiku

benamkan selamanya kecup bibirmu di redup jiwaku

agar sekiranya aku mampu

mengartikan sebuah makna penciptaan

menerka delapan kelopak

yang membungkus singgasanamu

kelak perkenankanlah aku abadi

dalam pengetahuan dan hakikat semesta

 

Seekor angsa putih bersih bersuara nyaring

di atas telaga tampak seroja warna-warni

pendeta dan sastrawan sejati lahir dari pekat arang jelaga

mereka membawa terang membentang lapang

berpadu molek tubuhmu nan semampai

menari-nari di atas padma

dalam puisi serta pikiran alam bawah sadarku

 

Jauhkanlah aku dari kebodohan

dan kisah cinta yang dungu

dari harapan-harapan terjal semu

yang selalu ingin memilikimu

dalam khayal tertinggiku.

 

 

YANG TERLEWATKAN

 

Buatmu yang terlewatkan

Tersimpan selalu di hati paras rupawan

Membekas sepanjang ingatan dan perjalanan

Percayalah, sayang, ini sejati hanyalah untukmu

 

Seribu alasan yang tak biarkanku berkata

Tentang rasa yang tumbuh subur karenamu di hidupku

Untuk mendapat rembulan aku harus menjadi Garuda

Ijinkan aku memantas diri sebelum merajut sulur mimpi memilikimu

 

Kasihku semesta abadi

Sayangku seluas bentang cakrawala

Sebab bila cinta saja terkadang dapat berubah dan musnah

Percayalah, terlebih karena tak indah lagi

 

Buatmu yang pernah terlewatkan

Rasaku sedalam palung Mariana

Serupa puncak gunung Himalaya

Sejatinya kau takkan pernah bisa tergantikan

 

Dalam hidupku yang selalu dahaga

Tertikam oleh hujan bulan Juni.

 

2021

 


Biodata Penyair

Ida Bagus Aditya Putra Pidada, S.Sos lahir di Denpasar 23 Juni 1996. Anak pertama dari dua bersaudara. Mengalami disabilitas netra sejak kelas 1 SMA. Saat ini bertempat tinggal di Jalan Pantai Sindhu No. 5 Sanur. Menamatkan studi S1 Jurusan Ilmu Komunikasi dan Penerangan Agama di Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar (2019). Sembari menulis kini mengelola massage clinic bernama Bali Mahasadu Refleksi Dan Pijat Kesehatan serta bekerja sebagai penyiar di Radio Publik Kota Denpasar 92, 6 FM. Beberapa prestasi yang diperoleh dalam karya tulis seperti puisi dan cerpen berhasil meraih juara dan masuk dalam antologi tingkat Nasional yakni : Kumpulan Puisi “Klungkung Tanah Tua Tanah Cinta” Museum Nyoman Gunarsa (2016), “20 Cerita Perjalanan Terbaik” UKMP Universitas Negeri Malang (2016), Juara 2 “Kumpulan 15 Cerpen Terbaik” DENUSC (2017), Kumpulan Puisi “Mengunyah Geram” Jatijagat Kampung Puisi (2017), “Saron” Jatijagat Kampung Puisi (2018), Juara 1 “Kepenulisan Cerpen tingkat Nasional Lautan Sastra” SMA N 1 Denpasar (2019), Kumpulan Puisi “Sebermula Adalah Bali” Kanaka Media (2020) dan Juara 2 “Lomba Kepenulisan Autobiografi Tingkat ABK Se-Provinsi Bali” Kanaditya (2020).

Ia menjadi salah satu penyair yang diundang dalam kegiatan Seminar Internasional Sastra Indonesia (2019. Beberapa karya puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Korea serta masuk dalam kumpulan antologi penyair disabilitas yang diterbitkan di Korea oleh Yayasan Bina Ilmu Bali (2021).

Telepon/ WA : 087862618675

Email : adityaputrapidada@gmail.com

Instagram : adityaskeleton23